Diferensiasi Agama Menimbulkan Konflik
Diferensiasi Sosial
Secara
pandangan Soerjono Soekamto menganggap bahwa diferensiasi sosial ada
perbedaan. Akan tetapi secara nilai sosial pekerjaan yang dilakukan
atau apapun itu dalam diferensiasi sosial tidak ada anggapan yang
berbeda. Pandangan
mengenai pengertian dari diferensiasi sosial menurut para ahli ini,
tentu saja akan memberikan anggapan.
Dalam
ilmu sosiologi Diferensiasi sosial merujuk pada penggolongan
masyarakat secara setara atau horizontal. Penggolongan masyarakat ini
tidak bertujuan membentuk kelompok-kelompok yang lebih unggul dari
kelompok lainnya. Akan tetapi, ternyata masih ada kelompok yang
merasa kelompoknya lebih unggul dari kelompok lain.
Terdapat
karakteristik
kebudayaan baik perbedaan dalam bidang etnis, golongan, agama,
tingkat sosial yang tinggal dalam suatu komunitas tertentu. Kenyataan
bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang terdiri dari
kelompok-kelompok suku, agama daerah ras yang beraneka ragam dan itu
merupakan ciri khas masyarakat Indonesia.
Masyarakat
yang memiliki ciri-ciri seperti itu disebut Masyarakat Majemuk.
Konsep masyarakat majemuk ini sangat penting untuk memahami karakter
masyarakat Indonesia. dengan memiliki latar belakang yang berbeda
masing-masing masyarakat nya masih tinggal dalam masyarakat yang
bersifat homogen (seragam), setidaknya hingga mereka dewasa.
Hal
ini menunjukkan bahwa mereka menghabiskan sebagian waktu mereka
dengan orang-orang dengan latar belakang yang sama, sehingga timbul
rasa nyaman dan percaya terhadap orang dengan latar belakang yang
sama tersebut. hal ini wajar jika paham primordialisme terjadi.
Seperti
yang dijelaskan diatas mengenai primordialisme, Primordialisme adalah
suatu sikap yang berpegang teguh pada hal-hal yang sejak lahir
melekat pada diri seseorang. Dengan kata lain, pandangan utuh yang
dibawa sejak lahir. Hal ini mencakup suku bangsa, ras dan agama. Hal
ini dapat terjadi dalam masyarakat Indonesia karena faktanya
Indonesia adalah negara yang beragam. ini mengakibatkan seseorang
dapat merasa bangga atas suku,agama,ras, dan adat nya.
Dengan
pandangan yang dibawa sejak lahir, mengakibatkan seseorang individu
akan terus bertemu dengan lingkungan atau orang yang itu itu saja.
ini lah yang dinamakan konsolidasi, yaitu suatu kegiatan yang
dilakukan untuk memperkuat, mempersatukan atau menghubungkan beberapa
hal menjadi satu. ada berbagai hal untuk dijadikan satu kesatuan yang
utuh, seperti agama,ras, suku, status sosial, gender, dan lainnya.
seorang individu akan mengalami penguatan kelompok dari kelompok nya
sendiri. Kedua hal diatas adalah akibat dari diferensiasi sosial yang
semua akibatnya merupakan bahaya dan dapat mengakibatkan disentegrasi
atau perpecahan dalam masyarakat.
Diferensiasi
Agama
Diferensiasi
agama lahir pada saat masyarakat yang
terdiri dari individu yang memeluk agama yang berbeda. Dalam setiap
agama tentu saja akan memberikan arahan atau petunjuk terhadap
umatnya tentang bagaimana tata cara hidup yang baik. Memeluk agama
rupanya merupakan salah satu Hak Asasi Manusia. Secara harafiah,
setiap manusia memiliki kebebasan untuk memeluk suatu agama. Setiap
orang memiliki kebebasan untuk memilih agamanya.
Di
Indonesia, terdapat berbagai agama. Terlepas dari Islam, Kristen
Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu dan Khong Hu Chu yabg diakui
di Indonesia. Adapula Yahudi, Shinto, Taoisme, dan lainnya di belahan
dunia berbeda. Dengan Agama, agama dapat mempersatukan manusia ke
dalam satu kesatuan umat. Di sisi lain, agama juga dapat memisahkan
manusia ke dalam kelompok-kelompok umat.
Penyebab
Konflik Agama
Yang
Ada
di Indonesia
Dengan
perbedaan-perbedaan yang ada disini, Tetapi pasti masih ada
permasalahan kelompok
agama yang merasa kelompoknya lebih tinggi di
masyarakat ini. Tergantung bagaimana sikap manusia/masyarakat untuk
bisa menyelesaikan permasalahan tersebut. Sebaliknya,
jika tidak dapat diselesaikan maka akan terjadi konflik dan
sulit
untuk diselesaikan.
Konflik
agama
biasanya terjadi karena individu atau kelompok memiliki tujuan
berbeda dengan pihak lain. Atau
juga bisa dibilang suatu kelompok mempunyai niat lain daripada
kelompok lain sehingga menciptakan pertentangan. Terjadi adu paham
antar masing-masing kelompok.
Dengan
terjadinya adu paham, tidak terbukanya dengan kelompok lain akan
mengakibatkan seseorang atau kelompok bersikap intoleran. Mengapa
seseorang dapat bersikap intoleran ? Salah
satu faktor mendasar adalah kurangnya pengalaman, pergaulan, dan
membaur
dengan komunitas agama lain. Pengetahuan tinggi tidak menjamin
seseorang bisa menjadi toleran dan pluralis jika tidak diiringi
dengan pengalaman pergaulan dan pergumulan yang memadai dengan
kelompok agama lain.
Inilah
sisi negatif dari diferensiasi sosial. Perbedaan kepentingan kelompok
yang tidak dapat berjalan bersama satu sama lain menjadi salah satu
faktor timbul nya masalah. Terjadinya
konflik di indonesia dikarenakan keberagaman suku,agama,ras yang ada.
Terjadinya
pengelompokan atau pelapisan sosial yang terbentuk dimasyarakat,
salah satunya kelompok agama. Dari agama yang memiliki Tuhan, kitab,
kepercayaan, dan cara beribadah yang berbeda. Perbedaan agama yang
mempunyai kepercayaan dan keyakinan yang berbeda pasti sering terjadi
pertentangan/konflik.
Konflik
Agama Yang Pernah Terjadi di Indonesia
Seperti
dilansir bbc Indonesia edisi 3 April 2019, Beragam
kasus intoleransi berbasis agama di masyarakat kerap
terjadi di
indonesia. Contoh
nya seperti kasus yang terjadi di desa bantul. Seorang bernama Slamet
Jurniarto mendapatkan perilaku yang tidak bijak dari lingkungan
sekitar
nya. Masyarakat
bantul
menolak
seseorang tinggal di daerah tertentu atas dasar agama.
Terungkap kesepakatan
antar warga di Dusun Karet, Pleret, Bantul, Yogyakarta untuk menolak
penduduk non-muslim tinggal di desa mereka.
Setelah
mengetahui kasus tersebut, Kepala
Dukuh Karet, Iswanto membatalkan kesepakatan tersebut
karena
seorang warga bernama Slamet Jurniarto yang beragama Katolik merasa
telah di diskriminasikan dan akhirnya ia mempersoalkannya. Slamet
tidak
diizinkan warga Karet menetap di dusun itu karena tak memeluk agama
Islam
"Peraturan
yang dulu dibuat, karena permasalahan ini, sudah ditarik dan
dibekukan mulai hari ini," kata Iswanto seperti dilaporkan
wartawan di Yogyakarta, Furqon Ulya Himawan. "Karena melanggar
undang-undang dasar, kami sepakat mencabut. Dulu aturan ini dibuat
bersama-sama, sekitar 30 orang dari tokoh agama dan perwakilan
warga," kata Iswanto.
Di
Kabupaten Bantul, kasus intoleransi kebebasan beragama lebih sering
terjadi dibanding dengan kabupaten lainnya di Provinsi DIY, sebut
Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) DIY. Dari permasalahan
tersebut, akhir nya. Norman menegaskan, sudah ada kesepakatan antara
Slamet, pihak pemilik rumah kontrakan.
Norman
memastikan aturan yang diskriminatif itu akan segera direvisi, karena
bertentangan dengan aturan yang ada dan dalam bingkai NKRI. Kejadian
intoleransi seperti ini bukan pertama kali terjadi di Yogyakarta.
Beberapa waktu lalu seorang camat yang bukan Muslim juga sempat
mengalami penolakan dari warganya.

Comments
Post a Comment